Menjadi Bagian Gerakan Tahfizh Dunia

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

Sudah hampir 10 tahun KH Yusuf Mansur bergabung dalam Lembaga Tahfizh Internasional, membawahi lembaga-lembaga di 70 negara

OPEN GOAL
Rp. 118.864.211
714
SHARE

 

Sudah hampir 10 tahun KH. Yusuf Mansur bersama Daarul Qur'an bergabung dalam Lembaga Tahfizh Internasional, membawahi lembaga-lembaga di 70 negara yang fokus mengembangkan gerakan Tahfizhul Qur’an.

“Indonesia ikut suplai pemikiran, gagasan, ide, sistem dan program. Termasuk soal tahfizh ke dunia internasional,” ucap UYM sapaan akrabnya.

Karenanya ia mengajak seluruh masyarakat, jemaah dan donatur untuk terlibat mendukung gerakan tahfizhul Qur’an dan para penghafal Qur’an dunia melalui sedekahonline.com dengan sedekah Rp. 100 ribu per bulan.

“Mudah-mudahan Allah SWT. menjadikan sedekahonline.com wasilah buat kita semua bersedekah ke seantoero dunia Allah SWT,” tutur UYM.

Untuk Mendukung Program ini Caranya :

1. Klik tombol "SEDEKAH SEKARANG"
2. Pilih "NOMINAL" dengan klik "Panah Bawah" dan Sertakan Doa.
3. Isi form yang sudah tersedia dengan benar
4. Pilih metode pembayaran (Transfer Bank BCA, BRI, Mandiri, BNI Syariah dan BNI Virtual Account) dan jika sudah login bisa menikmati fasilitas "Komitmen Sedekah"
5. Transfer sesuai dengan kode unik yang terdapat di invoice yang sudah dikirim melalui email atau sms.

6. Jika menggunakan metode pembayaran BNI Virtual Account diharapkan sesuai dengan total biaya yang sudah ditambahkan dengan biaya admin bank.
7. Dapatkan update laporan program via email dan pastikan email Daarul Qur'an berada di kotak masuk/primary Anda.
(**Jika Anda mengalami kesulitan bisa mengirimkan pesan chat kepada kami dengan klik "Tombol Bantuan")

Update 6, Menghafal Qur'an dalam Keterbatasan

Sa'adah (48) adalah seorang wanita tunanetra yang kuat. Kekurangan fisik yang dimilikinya, tak menyurutkan Sa’adah untuk menghafal Alqur’an. Kini hafalannya sudah 5 juz. Setiap Rabu, ia membacakan hafalannya di Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2 Tajur, Bogor.

Bu Adah sapaan akrabnya, tak pernah mengeluh menjalani kehidupan. Suaminya hanya pengrajin anyaman bambu yang di zaman milenial ini sudah tak lagi selaris dulu. Ibu dua anak itu ikhlas menerima apapun yang Allah berikan kepadanya.

“Bu Adah harus menempuh perjalanan jauh dari Parung Kuda (Sukabumi) untuk menghafal Alqur’an di Nurul Qolbi. Subhannallah,” ujar Kepala Cabang PPPA Daarul Qur’an Bogor, Diki Alaudin. 

Semangat Bu Adah begitu kuat untuk belajar dan menghafal Alqur’an meskipun dalam keterbatasan. Bersama puluhan penyandang tunanetra lainnya dari berbagai wilayah di Bogor, Depok, Jakarta dan Sukabumi, mereka rutin berkumpul dan mengaji di Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2.

Sudah enam tahun Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2 berdiri dengan fasilitas seadanya. Saat ini, sudah 36 santri tunanetra yang belajar dan menghafal di sana. Kapasitas rumah tahfizh yang hanya rumah petakan memang sudah tak bisa menampung para santri.

“Karena itu PPPA Daarul Qur’an mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan ruang kelas yang layak untuk santri-santri tunanetra ini punya ruang kelas yang layak dengan klik sedekahonline.com,” ucap Diki.

 

Update 5, Grha Tahfidz Daarul Qur'an Sebagai Akses Publik Umat

Respon masyarakat sangat tinggi pasca pengumuman dibukanya pendaftaran santri Grha Tahfidz Daarul Qur’an Yogyakarta. Grha ini merupakan program mengembangkan sentra-sentra tahfidz di lingkungan masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan, perusahaan dan instansi. Tujuan dasarnya ialah membibit dan mencetak para penghafal Al Qur'an dari kalangan masyarakat yang mengedapankan Al Qur’an dan Assunah. Adapun rincian program yang dibuka memuat Tahfizh, Tafsir Qur’an, Tahsin, Bahasa Arab, Akidah Akhlaq, Fiqh dan Sirah Nabawiyyah.

Dalam jangka waktu sepekan setalah launcing, jumlah calon santri yang mendaftar membludak. Hingga akhir penutupan pendaftaran, jumlah calon santri yang tertarik untuk mengikuti program Grha Tahfidz Daarul Qur'an sebanyak 500 orang. Hal inilah yang menjadi pertimbangan utama untuk melakukanan proses seleksi santri. Dari jumlah tersebut, santri yang ditetapkan diterima sebanyak 300 santri. Merekalah yang hampir setiap Senin hingga Sabtu berikhtiar menjemput hidayah Qur’an.

Salah satunya ialah Indi Fayruz Kamila (10 tahun), putri kelahiran Pemantang yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar ini ingin menjadi hafidzah. Belajar bersama santri lain yang umurnya di atasnya sama sekali tidak menyurutkan semangat menghafalnya. Orang tuanya mengaku, jika anaknya merasa senang belajar di Grha Tahfidz Daarul Qur’an. Bacaan Qur’annya pun semakin baik dan semakin rajin menghafal surat-surat pendek. Metode pembelajaran yang diterapkan sangat cocok untuk dia yang sifatnya ingin diperhatikan dan didengarkan.

Ada pula Hidayat, remaja asal Sulawesi Tenggara yang saat ini menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga juga merakasan nikmatnya belajar di Grha Tahfidz. Baginya hidup adalah proses menuju keridhoan Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya. Termasuk perintah membaca dan menghafal Alqur’an. Hidayat merasa bersyukur dipertemukan dengan Grha Tahfidz sebagai sarana menjemput ridho Allah SWT yang insyaAllah akan bernilai ibadah. Setelah bergabun, ia merasa bacaan dan hafalan Qur’annya membaik. Baginya Al Qur’an adalah kebaikan yang harus diutamakan dibandingkan yang lain. Dengan demikian aktifitasnya di Grha Tahfidz sama sekali tak mengganggu kesibukkannya sebagai mahasiswa.

Melihat antusias dan respon masyarakat yang bertambah setiap bulannya, kini Grha Tahfidz menjadi akses publik yang mudah untuk mendalami ilmu Alqur’an. Masyarakat yang tidak sempat mengenyam pendidikan di pondok pesantren, saat ini dapat belajar secara langsung dengan pengajar Grha Tahfidz Daarul Qur’an dari Assatidz dan Assatidzah Rumah Tahfidz, Mahasiswa penerima Beasiswa Tahfidz Qur’an (BTQ), Assatidz PPPA Daarul Qur’an dan para ustadz yang konsen di bidang keilmuannya.

Semoga program Grha Tahfidz Daarul Qur’an senantiasa sukses dalam memberikan layanan pembibitan Al Qur’an. Sehingga PPPA Daarul Qur’an dapat membuka Grha Tahfidz 2 hingga seterusnya. Aamiin.

 

Update 4, Ujian Santri dan Nasihat KH Yusuf Mansur

Grha Tahfizh Daarul Qur’an Yogyakarta adalah tempat diadakannya ujian rutinan Rumah Tahfizh Yogyakarta. Sebanyak 131 santri perkatagori 2, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 juz mengikuti ujian pada 10-18 September 2018. Berbagai Rumah Tahfizh mandiri maupun mitra mengirimkan santriwan dan santriwati terbaiknya.

Ujian rutinan itu diawasi oleh Koordinator Daerah (Korda) Rumah Tahfizh wilayah Yogyakarta dan diuji oleh Assatidz/Assatidzah. Kegiatan ini bertujuan mengingatkan kualitas hafalan para santri. Adapun metode ujian yang dipakai adalah santri menyetorkan hafalan  full per juznya dengan klasifikasi juz yang berurutan maupun secara acak. Secara lebih luas tujuan ujian rutinan ini, untuk mempersiapkan semua santri dalam menghadapi ujian rutinan seperti Wisuda Rumah Tahfizh dan WTN (Wisdua Tahfizh Nasional).

“Alhamdulilah, dengan diadakan ujian rutinan ini Rumah Tahfizh yang jarang mengirimkan santrinya pada kegiatan Rumah Tahfizh, jadi lebih tergerak dan termotivasi. Bahkan jarak tidak menjadi kendala Rumah Tahfizh yang jauh dari lokasi ujian,” tutur Korda Rumah Tahfizh Yogyakarta.

Pada pertengahan ujian, Rabu (12/9) Grha Tahfizh Daarul Qur’an Yogyakarta dikunjungi KH Yusuf Mansur. Ruangan yang tadinya riuh dengan bacaan Qur’an terhenti sejenak untuk memberi salam dan berkhidmat dengan Sang Guru.

Rasa haru dan takjub ketika KH Yusuf langsung ingin menyimak ujian santri dari Rumah Tahfizh Qurrotaa’yun. Sedikit grogi, santri yang bernama Udin bergetar suaranya ketika KH Yusuf duduk didepannya dan membenarkan hafalannya yang salah. Udin menundukan kepala dan tertatih karena gugup menyetorkan hafalannya. Pun dengan Nadia dan Andri yang di tes secara langsung oleh KH Yusuf Mansur dengan menyebutkan nomor surat, nomor ayat, membaca secara mundur dan kelipatan bacaan perlembarnya.

Subhanallah, ketiga santri itu mampu menyelesaikan tantangan dari KH Yusuf dan dinyatakan lulus ujian. “Cara ngapalin Qur’an jangan pake cara lama, kalo gitu cepet ilang. Coba ngafalin Qur’an dengan ngajak tangan untuk menulis, mata untuk melihat dan dipahami setiap maknanya, itu lebih mantab dan ngga cepet hilang,” nasihat KH Yusuf.

Setelah ujian rutinan ini selesai. Manager cabang PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta, Korda maupun para Assatidz dan Assatidzah sepakat untuk meruntinkan ujian per tiga bulan sekali. Agar peningkatan kualiats hafalan terjaga dan evaluasi kegiatan rumah Tahfizh dapat dikembangkan. Bismillah semoga ujian santri menjadi wasilah keberkahan Allah dan peningkatan hafalan para santrinya. Aamiin.

 

Update 3, Mengukuhkan Semangat Para  Pejuang Rumah Tahfizh

PPPA Daarul Qur’an menggelar Halal Bi Halal pengurus rumah tahfizh se-Jakarta, Depok, Bogor dan Karawang (Jadebeka) di Kampung Qur’an Al Fithroh Indonesia, Serang, Banten, pada Minggu (22/7). Mereka yang jadi peserta adalah puluhan guru-guru tahfizh yang berjuang mendirikan rumah-rumah tahfizh di wilayah Jadebeka.

Turut hadir Direktur Utama PPPA Daarul Qur’an Muhammad Anwar Sani, Direktur Rumah Tahfizh Center (RTC) Solehuddin, Koordinator Daerah Rumah Tahfizh Jadebeka Suryadi Zaini dan Ketua Yayasan Al Fithroh Indonesia Fitri Azriyani. Dalam gelaran tersebut Anwar Sani sempat memberikan motivasi untuk para pejuang rumah-rumah tahfizh.


Sumber : Dokumentasi saat halal bi halal Rumah tahfizh seluruh indonesia

Menurut Ustad Sani sapaan akrabnya, dakwah tak melulu harus berada di zona nyaman.  Ia mengatakan, derajat kemuliaan akan berbeda antara orang yang berbuat baik untuk diri sendiri dengan yang menebar kebaikan.  Karenanya, ia meminta seluruh pengurus rumah tahfizh se-Jadebeka untuk terus berjuang  menjadi yang bermanfaat untuk umat dengan mengembangkan rumah tahfizh sampai akhirnya berdiri di setiap belokan.

 “Muhammad sebelum menjadi Rasul adalah orang baik yang dicintai masyarakat. Namun saat Allah mengutus sebagai Nabi, mulai ada musuhnya bahkan sampai harus hijrah ke Madinah.Tapi itu perjuangan. Ada sedihnya, ada nggak enaknya, ada beratnya, ada pengorbanannya. Semoga Allah luruskan niat dan perjuangan kita semua,” ujarnya.

Dalam Halal Bi Halal yang berlangsung khidmat tersebut, Ustad Sani juga memberikan surat penetapan rumah-rumah tahfizh yang telah berdiri di Jadebeka kepada Ustad Suryadi. Saat ini sudah ada 70 rumah tahfizh dengan 5000 santri di Jadebeka.

“Semoga santri-santri kami semangat berjuang menjadi penghafal Qur’an 30 juz dan semakin banyak rumah-rumah tahfizh yang bemunculan demi mewujudkan mimpi membangun dunia dengan Al Qur’an,” harap Ustad Suryadi.

 

Update 2, Impian Daarul Qur'an Bersama Pemuda Pembangkit Peradaban

Selalu ada inisiatif dari pemuda Indonesia, seperti yang dilakukan Organisasi Santri Internasional atau kerap disebut OSI. Organisasi ini adalah arena juang bagi alumni santri Indonesia yang kini menjadi pelajar atau mahasiswa di luar negeri.

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa keluar dari pesantren berarti keluar dari segalanya. Bagi mereka, lulusan pesantren justru menjadi penyemangat untuk menebar kebaikan.

PPPA Daarul Qur'an pun berkesempatan mengundang OSI untuk silaturrahim sekaligus berdiskusi membangkitkan pergerakan dakwah di mancanegara pada Ahad, (22/7) di kampus STMIK Antar Bangsa, Tangerang. Acara ini turut dihadiri Direktur Utama PPPA Daarul Qur’an Muhammad Anwar Sani dan Direktur Rumah Tahfizh Center (RTC) Sholehuddin.

Anwar Sani memotivasi belasan anak muda itu agar menjadi pelayan masyarakat. Salah satunya dengan membangun rumah tahfizh di masing-masing negara.

Mengingat, setidaknya ada 11 negara yang terdaftar di OSI. Negara-negara tersebut adalah Turki, Prancis, Jerman, Rusia, Maroko, Arab Saudi, Flipina, Sudan, Lebanon, Mesir dan Malaysia.

"Kami dari Daarul Qur'an terbuka lebar kesempatan untuk bersinergi dengan OSI, sebagai upaya mengembangkan dakwah Qur'an. Namanya terserah, tapi kalau bareng dengan Daarul Qur'an ya kita namakan rumah tahfizh," tutur Ustad Sani sapaan akrabnya.

Ia menyampaikan, yang terpenting adalah mencoba terlebih dahulu, serahkan kepada Allah. Para anggota OSI pun diberikan tantangan untuk langsung terjun menjadi pengajar di rumah tahfizh yang mereka bina.

Tidak hanya itu, dalam diskusi hangat tersebut tercetus pula rencana untuk mengadakan wisuda akbar di negara-negara terkait. Hal tersebut dibenarkan pula oleh Ketua OSI, Aswar Anas (22).

“InsyaAllah kita akan bangun rumah tahfizh di Eropa, di Prancis, Jerman, Rusia. Pengajarnya nanti teman-teman dari OSI sendiri. Kemudian sinergi yang lain diantaranya program santri membangun hingga rencana wisuda akbar di sana,” ujar Pemuda asal Sulawesi Tenggara itu.

Setelah acara ini, Aswar bersama kawan-kawannya akan melanjutkan perjalanan ke Kalimantan untuk mengadakan seminar internasional. Masa libur yang masih tersisa ini dimanfaatkan OSI untuk berkeliling Indonesia dalam upaya dakwah di tanah air.



Update 1, Mencari Berkah Ramadan Ala Syeikh Abdul Aziz

Sudah hampir dua pekan Syeikh Abdul Aziz yang merupakan putra Imam Masjidil Haram Syeikh Bandar Balilah berada di Indonesia. Kehadirannya bersama Muadzin Masjid Hasan Syathoh Madinah Munawarrhoh Syeikh Osamah Muhammad Ramzan memang dalam rangka safari Ramadan 1439 H.

Di sela-sela kegiatannya yang padat, ia pun menyempatkan berbagi kisi-kisi agar mendapatkan pahala di bulan Ramadan. Menurutnya, keberkahan Ramadan akan didapat seseorang jika ia memuliakan ahli Qur’an. Menurutnya, memuliakan Alqur’an berarti memuliakan Allah..


Sumber : Dokumentasi Syeikh Abdul Aziz menjadi imam di pesantren Daarul Qur'an Ketapang

"Sebab ada banyak pahala jika para penghafal Alqur’an membaca, mengajarkan dan mentadaburinya. Dan pahala itu juga akan mengalir kepada siapapun yang memfasilitasi dakwah para penghafal Alqur’an," ujar Syeikh Abdul Aziz.

Imam Masjid Jami Al Hakim Makkah Al Mukarramah itu pun mengapresiasi gerakan tahfizhul Qur’an di Indonesia. Ia kagum dengan geliat anak-anak menghafal Alqur’an khususnya para santri yang tinggal di asrama atau pesantren-pesanten berpisah dengan keluarga hanya untuk mewujudkan impian menjadi seorang hafizh/hafizah.

"Subhanallah semangat anak-anak di sini luar biasa sekali. Di Arab Saudi asrama atau pesantren untuk para penghafal Alqur’an tidak menjamur seperti di Indonesia. Saya berharap gerakan tahfizhul Qur’an di Indonesia semakin berkembang. Para santrinya bukan hanya menghafal Alqur’an tapi juga memahaminya," tutur Syeikh Abdul Aziz.

Dalam safari Ramadannya, Syeikh Abdul Aziz dan Syeikh Osamah telah berkunjung ke beberapa kota di Indonesia untuk menjadi imam salat Isya dan Tarawih serta berbagi motivasi Qur’an untuk masyarakat se-Nusantara. Setelah mengunjungi Yogyakarta, Solo, Surabaya dan Makassar, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bogor dan Bandung. Keduanya dijadwalkan kembali ke Jeddah pada Sabtu (26/5).

200.000

Rinda
23 July 18


200.000

Rinda
23 July 18


2.924.500

UKKI UNNES
14 May 18


100.000

Fahirani Gunawan
10 June 18

Semoga dapat menghafal 30 juz Al Qur'an sebelum uaia 25 tahun. Semoga orang tua dan keluarga diberikan kesehatan,umur yang panjang dan rezeki yang berkah


50.000

20 May 18

Doakan saya ingin menjadi hafidzah


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE