Hadiah Umroh untuk Ustad Lukman

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

Ini merupakan program tahunan yang diberikan bagi para pejuang quran di daerah atau pelosok. Tahun ini Insya Allah 30 guru tahfizh terpilih

18.64%
Rp. 18.640.000
85
8 hari Lagi
SHARE

 

Update pengumpulan Donasi Program Hadiah Umroh Untuk Ustad Khairudin hingga 31 Oktober 2017 tercapai sebesar Rp 51.060.335,-  terimakasih kepada donatur yang sudah mendukung program kami.

Lukman (30) dikenal sebagai pria yang ramah senyum. Dibalik tubuhnya yang kurus ia memiliki semangat berdakwah yang kuat sekokoh karang. Putra asli Lombok ini sejak kecil sudah hijrah ke Madura untuk mendalami ilmu agama sekaligus menghafal al-quran di Pondok Pesantren Al Amien, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Di Madura ini bekal keagamaan ia penuhi dari beberapa guru hingga akhirnya ia merasa siap dan memilih wilayah ibukota dan sekitarnya sebagai medan dakwahnya. Langkahnya tertambat di Bogor, saat itu ia membantu PPPA Daarul Qur'an cabang Bogor sebagai assatidz. 

Nalurinya sebagai “pengajar” Alqur’an membuatnya lebih memilih mengajar di rumah tahfizh, langsung berkecimpung dan mencetak para penghafal Alqur’an.

Manis getir mencetak penghafal Alqur’an di Bogor telah dirasakan Lukman. Ribuan pengalaman telah ia lalui. Hingga akhirnya panggilan dari orangtua datang. Ia dipinta untuk membangun peradaban di desanya dengan Alqur’an.

Meski merasa tugasnya di Bogor belum selesai namun ia tidak kuasa menolak panggilan orangtua sebab terselip alasan membangun desa dengan Alqur’an. Andai saja tanpa alasan itu, mungkin Lukman sedikit memberanikan diri untuk menawar agar tetap tinggal di Rumah Tahfizh Bogor.

Lukman akhirnya pulang kampung, merintis rumah tahfizh untuk tanah kelahirannya di Janapria, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Beberapa santri dari Rumah Tahfizh Bogor ia boyong ke Lombok karena hubungan batin dengan santrinya sudah terlanjur kuat. Santri-santrinya itu pun ingin menuntaskan hafalan 30 juz atas bimbingan Lukman.

Meski Lombok merupakan tanah kelahirannya, Lukman merasa asing, karena sejak kecil sudah hijrah menuntut ilmu di Madura. Di Lombok, ia tak punya jaringan luas. Kenalan pun terbatas. Dengan jaringan seadaanya, ia tetap kukuh merintis rumah tahfizh di desanya.

Lambat laun merintis, anak-anak sekitar dan dari dusun tetangga mulai ikut menghafal di rumah tahfizhnya. Bahkan saat ini ada ratusan santri yang ia bimbing belajar dan menghafal Alqur’an. Silaturahim  Lukman pun semakin luas, ukhuwah Islamiyah yang terjalin di rumah tahfizh membuatnya memiliki banyak saudara, Lukman bersyukur.

 “Ternyata dengan gerakan rumah tahfizh ini, bisa dijadikan ajang silaturahmi. Jaringan kita akan meluas. Jadi punya banyak saudara,” ujar Lukman. Ia merasa terbantu dengan gerakan rumah tahfizh yang digagas oleh PPPA Daarul Quran. 

Sebagai apresiasi atas kiprah dakwah quran Lukman, PPPA Daarul Qur'an memilihnya untuk berangkat umroh melalui program "Umroh Untuk Guru Tahfizh". Ini merupakan program tahunan yang diberikan bagi para pejuang quran di daerah atau pelosok. Tahun ini Insya Allah 30 guru tahfizh terpilih dalam program ini.

Untuk Mendukung Program ini Caranya :

1. Klik tombol warna kuning "SEDEKAH SEKARANG"
2. Pilih "NOMINAL" dengan klik "Tanda Panah Bawah" dan Sertakan Doa.
3. Isi Biodata di kolom yang tersedia dan "Klik Lanjut"
4. Pilih metode pembayaran (Tersedia Bank BCA/BRI/Mandiri/BNI Syariah) atau Dompet Sedekah jika sudah melakukan Login.
5. Silahkan transfer sesuai dengan invoice yang sudah disertakan kode unik yang sudah dikirim melalui email.
6. Dapatkan laporan via email dan pastikan email Daarul Qur'an berada di kotak masuk/primary Anda. Jika mengalami kesulitan bisa mengirimkan pesan kepada kami.

 

Update 1, Pejuangan ustad Khairudin

Bermula dari lima orang santri pada tahun 2008 ustad Khairudin memulai dakwah Al-Qur'an di Kota Gajah, Lampung. Lulus pada tahun 2005 dari pondok pesantren tahfizh Bayan, Cilacap, Ia pulang ke kampung halaman dengan niat membagikan ilmu yang ia dapat kepada anak-anak di sekitar rumahnya.

Semangatnya saat itu hanya satu bagaimana ilmu yang ia dapat tidak hanya berhenti pada dirinya. Bermodal sebuah gubuk reot dari bilik bambu ia menempa lima santri tersebut agar menjadi penghafal Al-Qur'an. Kini lima santri didikannya tersebut telah membuka rumah tahfidz sendiri.

“Saya tidak menyangka sambutan masyarakat akan rumah tahfidz sebesar ini. Ini bukti keberkahan Al-Qur'an” ujar Khairudin.

Khairudin mengaku bukan perjuangan yang mudah dalam membangun dakwah Qur’an di Lampung. Awalnya ia merasakan seorang diri dan sempat merasa ‘cukup’ saat lima santri didikannya berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz.

Ketika itu Khairudin mengirim ke lima santrinya tersebut ke Cilacap, tempat dimana ia menimba ilmunya dulu.

Setelah mengirim santrinya ke Cilacap, ia memutuskan untuk berhenti mengajar Al-Qur’an sejenak dan pergi ke Palembang untuk mengurus kebunnya. Setahun berdiam di palembang, panggilan dari rumahnya terus berdatangan. Panggilan dari orang-orang yang haus akan ilmu Al-Qur’an kerap berdatangan dan terus mengetuk pintu hatinya hingga ia memutuskan untuk pulang kembali membimbing anak-anak mengaji ayat-ayat suci.


(sumber : Dokumentasi PPPA Daarul Qur'an Pusat)

Semangatnya pun kembali timbul saat ia menyaksikan acara Wisuda Akbar 4 di televisi.

“Loh, ternyata ada acara seperti ini ya,” gumamnya ketika itu.

Setelah melihat acara yang di usung PPPA Daarul Qur’an tersebut, ia pun semakin bersemangat untuk memotivasi santri-santrinya agar beristiqomah menghafal. Ia mengatakan, keistiqomahan anak-anak untuk datang mengaji lah yang paling diutamakan.

“Saya tidak memaksakan anak-anak untuk menghafal, minimal istiqomah datang mengaji saja,” akunya.

Rumah Tahfidz Al Quranyy 1 kini tak lagi berbilikkan bambu. Gubuk reot tempat ia mengajar lima santrinya telah berganti bangunan asrama 3 lantai. Bersama kelima santri perdananya, ia mengembangkan rumah-rumah tahfidz diberbagai daerah. Berawal dari Khairudin kini ada 41 rumah tahfizh di Lampung dan sekitarnya.

Selain keberkahan Al-Qur'an, keberhasilan Khairudin juga tidak bisa dilepaskan dari perang sang Ibu yang selalu mendoakan segala kebaikan pada setiap langkahnya.

“Ibu yang selalu memotivasi dari mulai saya berangkat mondok hingga sampai sekarang” 

Atas kiprah dan perjuangannya itulah, insyaAllah PPPA Daarul Qur’an akan memberikan hadiah umroh kepada Khairudin bersama beberapa Asaatidz Rumah Tahfizh lainnya melalui Program Sedekah Umroh Untuk Penghafal Qur'an
 

Update 2, Bingkisan Untuk Seorang yang Terpilih

Masih terlalu pagi, seorang “bocah” masuk ke dalam kantor PPPA Daarul Qur’an Cabang Yogyakarta pada Jumat (10/11) lalu. Keningnya cukup basah, beberapa tetes peluh masih mengalir turun dari pelipis menuju dagunya. Kopyahnya yang hitam tak lagi bersudut sedikit kecoklatan diluruskan dari letaknya yang miring. “Assalamu ‘alaikum warahmatullah…,” ujarnya mengucap salam.

Dipersilahkan duduk, nafasnya ngos-ngosan, dua gelas air mineral diteguknya perlahan namun habis. Rupanya kedatangan “bocah” ini sembari mampir menyerahkan beberapa data arsip yang diminta PPPA Daarul Qur’an cabang Yogyakarta beberapa hari sebelumnya. “Bocah” ini adalah Bahrul Ilmi, seorang santri Rumah Tahfidz Zulfa Qurrrota Ayun di Kotagede Yogyakarta, berperawakan kecil dan masih terlihat seperti anak umur kelas 1 SMP. 

Usianya ternyata tak lagi muda, 18 tahun, dan sedang mengenyam pendidikan di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam di UIN Sunan Kalijaga. Sepagi itu, Bahrul Ilmi memenuhi panggilan untuk ujian hafalan 30 juz di kantor PPPA Daarul Qur’an Cabang Yogyakarta. Sedikit menghela nafas, Bahrul Ilmi menjawab lancar setiap sambung ayat  secara acak di setiap juz hafalannya. Lekas berpamitan, Bahrul Ilmi merapikan isi tasnya yang usang untuk bersiap kuliah. Sepeda tuanya segera dikayuh dari Kotagede menuju UIN Sunan Kalijaga sejauh 8 kilometer pulang pergi setiap harinya.

Doa Terbaik di Tempat Terbaik

Selepas Dhuhur, Bahrul Ilmi kembali. Masih tetap berkeringat dengan sepeda tuanya yang disandarkan di antara parkiran motor dan mobil. Beberapa orang sudah menantinya di kantor PPPA Daarul Qur’an cabang Yogyakarta. Ketika ditanya, Bahrul Ilmi pun berkisah tentang orang tuanya. Ayahnya telah wafat sejak tahun 2009 lalu. Ibunya bertahan hidup dengan berdagang makanan kecil di sekolah Taman Kanak-Kanak di dekat rumahnya. Kehidupan kerasnya di Brebes mendorongnya untuk menjadi santri Rumah Tahfidz binaan PPPA Daarul Qur’an di Yogyakarta sejak tahun 2012.

Masih ada keinginan Bahrul Ilmi untuk tetap mendoakan almarhum ayah dan ibunya yang masih hidup dengan doa terbaik di tempat terbaik. Lewat 30 juz hafalan Al-Qur’an-nya, Bahrul Ilmi berharap ingin membahagiakan kedua orang tuanya di suatu hari.

6 tahun sudah berjalan, 30 juz sudah dihafal, Bahrul Ilmi tidak mengira dipanggilnya ke kantor PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta untuk menerima hadiah umroh ke tanah suci. Tidak ada kata-kata yang terucap darinya, bibirnya kelu tidak bisa mengungkap apa-apa selain kata “alhamdulillah…”. 

Matanya sedikit memerah mengingat almarhum ayahanda dan kerja keras ibunda di rumah. Imajinasinya di siang terik itu mendoakan kedua orang tuanya di depan Ka’bah dan melancarkan hafalannya di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, antara Mekkah dan Madinah yang menjadi tempat terbaik untuk setiap doa terbaik.

Melalui PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta, Ibu Fitri Nurita Hapsari, Regional Manager PT. Bumi Nata Wisata menyerahkan langsung paket umroh untuk Bahrul Ilmi yang akan berangkat pada tanggal 11 Januari 2018. Ibu Fitri Nurita terkesan saat banyak santri binaan PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta diwisuda saat helatan Wisuda Akbar 8 pada 22 Oktober lalu. “Ini adalah sebentuk dukungan terhadap aktivitas para Penghafal Al-Qur’an di Kota Yogyakarta. Semoga tahun depan semakin banyak lagi para Penghafal Al-Qur’an yang akan berangkat ke tanah suci,” harapannya kepada semua santri Rumah Tahfidz binaan PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta.

Romansa pertemuan Jumat siang itu ditutup lirih lantunan doa dari Bahrul Ilmi, mendoakan semua yang terus mendukung para penghafal Al-Qur’an. Bertambah syahdu, Bahrul Ilmi pun mendapat ganti tas lamanya dengan yang baru. “Merknya mboten dilepas, biar kawan-kawan tahu ini tas baru,” ujar Bahrul Ilmi dengan tawa renyahnya disambut girang semua orang yang menyaksikannya pergi kuliah. Semangatnya muncul untuk bergegas kembali ke kampus dengan tetap mengayuh sepeda tuanya.

Rp. 500.000

Sardjananto
23 November 17

Diijabahi segala doa dan permohonan saya. Insha Allah. Aamiin YRA


Rp. 50.000

Hamba Allah
23 November 17


Rp. 50.000

Hamba Allah
22 November 17

Ya allah smg diskusi hamba dgn drg budi yuwono bisa slesai bsk dan smg hamba bs berhasil odontektomi dan mengeluarkan giginya dek Hidayatul Rohmah sendiri dan smg dek Hidayatul Rohmah kooperatif. Aaamiin


Rp. 1.250.000

Hamba Allah
22 November 17

Labaik Allahumma Labaaik, Labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk La Syarikala. Semoga saya, bapak ibu, keluarga besar, seluruh umat muslimin muslimat disegerakan dimampukan Allah untuk bisa berangkat, memberangkatkan untuk beribadah di Baitullah. Aamiin ya rabbal Alamiin


Rp. 100.000

Hamba Allah
22 November 17

Semoga bisa membawa kebaikan bagi penerimanya.. Mohon doanya buat kesuksesan kami.aamiin.!!


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE