Beasiswa Tahfidz Qur’an

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

BTQ For Leaders adalah program pembinaan dan bantuan biaya pendidikan kepada mahasiswa tidak mampu dari universitas terbaik

2.45%
Rp. 1.225.163
9
14 Hari lagi
SHARE

 

Beasiswa Tahfidz Qur'an (BTQ) For Leader

A. Latar Belakang

“Pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan” begitulah kiranya bunyi sebuah pepatah, tampak sudah mendarah daging dalam segala bentuk perjuangan pemuda di mana pun ia berada. Ketika muda ia berkarya, berjuang dan berkorban untuk negara, dan ketika ia semakin matang dan dewasa, negara memberikan kesempatan baginya untuk mengabdikan diri sebagai “pelayan negara”.

Namun kedewasaan saja tidak cukup untuk memimpin sebuah negeri, kepribadian dan karakter yang baik tentunya menjadi syarat penting agar kepemimpinan tidak salah arah tujuan. Anak bangsa yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata tumbuh dilingkungan yang minim dan terbatas sehingga kecerdasannya semakin tumpul tatkala akses untuk mempertajam tidak mampu diraih.

PPPA Daarul Qur’an berinisiatif menyiapkan kader pemimpin masa depan melalui investasi sumberdaya manusia dalam bentuk program Beasiswa Tahfidz Qur’an (BTQ) For Leaders. BTQ For Leaders adalah program pembinaan dan bantuan biaya pendidikan kepada mahasiswa tidak mampu dari universitas terbaik yang memiliki komitmen untuk menjadi Penghafal Al-Qur’an dan pendakwah di masyarakat. PPPA Daarul Qur’an Bekerjasama dengan 24 Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia.

Program yang diberikan berupa bantuan biaya pendidikan, kaderisasi, dan pendampingan. Program BTQ For Leaders diberikan dalam jangka waktu program 4 tahun dengan monitoring dan evaluasi per 1 tahun.

B. Tujuan dan Manfaat Program

  1. Mendukung mahasiswa yang memiliki kualitas untuk menjadi hafidz Qur’an dan pemimpin yang siap terjun ke masyarakat.

  2. Menyiapkan calon-calon pemimpin bangsa masa depan yang memiliki karakter berbasis Tahfidzul Qur’an.

  3. Membangun jaringan dan kaderisasi aktor program PPPA Daarul Qur’an.

C. Urgensi Pelaksanaan Program

  1. Masih banyak pelajar berprestasi yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

  2. Minimnya perhatian pembangunan karakter Qur’ani terhadap mahasiswa

  3. Perlunya perhatian dan bimbingan untuk mencetak kader islami calon pemimpin masa depan.

D. Sasaran Program

Sasaran program BTQ For Leaders adalah mahasiswa baru yang :

  1. Lulus SMA/Sederajat dan masuk Perguruan Tinggi Negeri yang direkomendasikan

  2. Memiliki hafalan Qur’an minimal 2 juz

  3. berasal dari keluarga tidak mampu

  4. Berkomitmen untuk menyelesaikan hafalan 30 juz selama mengikui

  5. Program

  6. Berkomitmen untuk ditempatkan 1 tahun di wilayah dakwah Daarul Qur’an di berbagai pelosok Indonesia

  7. Siap mengikuti proses pembinaan selama 4 tahun

E. Bentuk Program

BTQ For Leaders memiliki kurikulum pembinaan yang komplit, baik materi dalam kelas, diskusi kelompok, maupun implementasi kepemimpinan di masyarkat. Beberapa bentuk program BTQ For Leaders antara lain :

  1. Bantuan biaya pendidikan selama 4 tahun

  2. Pemberian uang saku setiap bulan

  3. Pembinaan intensif tahfidz 30 juz

  4. Pemberdayaan masyarakat sekitar kampus

  5. Mentoring kepemimpinan bersama tokoh nasional

  6. Jambore dan pendadaran nasional

  7. Penempatan dakwah 1 tahun pasca kuliah

F. Penerima Manfaat angkatan I & II (2016-2017)

Sebanyak 114 mahasiswa yang berasal dari 43 kabupaten dan 11 provinsi di Indonesia dengan ragam capaian hafalan Qur’an.

G. Sinergi dan Kerjasama

Bekerjasama dengan 22 Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Indonesia, yaitu :

  1. Universitas Indonesia,

  2. Institut Teknologi Bandung

  3. Institut Pertanian Bogor

  4. Institut Teknologi Sepuluh Novmber

  5. Universitas Airlangga

  6. Universitas Gajah Mada,

  7. Universitas Dipenogoro

  8. Universitas Padjadjaran

  9. Universitas Pendidikan Indonesia

  10. Universitas Negeri Yogyakarta

  11. Universitas Negeri Jakarta

  12. Universitas Negeri Semarang

  13. Universias Negeri Surabaya

  14. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

  15. UIN Sunan Ampel Surabaya

  16. UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta,

  17. UIN Walisongo Semarang

  18. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,

  19. Universitas Hasanudin

  20. Universita Negeri Makassar

  21. UIN Alauddin Makassar,

  22. UIN Sunan Gunung Djati Bandung,

  23. Universitas Brawijaya,

  24. Universitas Negeri Malang

H. Pelaksanaan Program

Program BTQ berlangsung maksimal 4 tahun terhitung setelah penandatangan akad bersama peserta. Peserta program akan dievaluasi setahun sekali untuk meninjau kembali komitmen peserta dalam mengikuti pembinaan.

I. Output dan Indikator Keberhasilan

Ouput yang diharapkan dan indikator keberhasilan program Beasiswa Tahfidz Qur’an (BTQ) adalah sebagai berikut:

  1. Peserta BTQ For Leaders hafal 30 Juz diakhir kuliah

  2. Penerima manfaat program memiliki prestasi akademik, kecakapan manajerial, wawasan kebangsaan, leadership yang baik, dan wawasan agama yang baik.

  3. Penerima program menjalankan Daqu Methode dengan rutin.

  4. Mendakwahkan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

 

 

Untuk Mendukung Program ini Caranya :
1. Klik tombol "SEDEKAH SEKARANG"
2. Pilih "NOMINAL" dengan klik "Panah Bawah" dan Sertakan Doa.
3. Isi form yang sudah tersedia dengan benar
4. Pilih metode pembayaran (Transfer Bank BCA, BRI, Mandiri, BNI Syariah dan BNI Virtual Account) dan jika sudah login bisa menikmati fasilitas "Komitmen Sedekah"
5. Transfer sesuai dengan kode unik yang terdapat di invoice yang sudah dikirim melalui email atau sms.

6. Jika menggunakan metode pembayaran BNI Virtual Account diharapkan sesuai dengan total biaya yang sudah ditambahkan dengan biaya admin bank.
7. Dapatkan update laporan program via email dan pastikan email Daarul Qur'an berada di kotak masuk/primary Anda.
(**Jika Anda mengalami kesulitan bisa mengirimkan pesan chat kepada kami dengan klik "Tombol Bantuan")

Update 3, Dari Marbot Sampai Jadi Imam Masjid


Sumber : Dokumentasi Penerima Beasiswa Tahfizh Quran Yahya saat kegiatan Dakwah menjadi Imam Masjid

Muhammad Yahya adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Saat ini ia masih semester tiga dengan jurusan Ilmu Alqur'an dan Tafsir. Sebelum ia tiba di Yogyakarta satu tahun silam, Yahya masih tinggal di daerah asalnya Sulawesi. Setelah lulus dari pesantren sebetulnya lelaki 21 tahun ini bercita-cita kuliah di salah satu negara yang ada di Timur Tengah.

Namun, impiannya belajar di luar negeri lantaran tak mendapatkan izin dari orangtua, Ambo Angkal dan Asnidar. Meski sempat putus, Yahya tetap bersikukuh mencari pengalaman di luar Sulawesi Selatan, tempat asalnya. Ia tak menyerah meski ayah dan ibunya mengaku tak sanggup membiayai kuliah Yahya jika belajar di luar Sulawesi.

"Awalnya orang tua berat hati untuk melepas saya, mereka nangis waktu di bandara. Sampai sekarang pun kalau telepon masih suka menangis," jelasnya.

Yahya tetap bertekad mencari wawasan baru di luar pulau. Hingga tibalah ia di Yogyakarta. Setibanya di kota pelajar, Yahya memang tak sebatang kara, mengingat ada beberapa kawan alumni dari pondoknya yang berdiam di sana pula. Akan tetapi, ia harus berusaha mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Pertama kali menginjakkan kaki di Jogja, besoknya saya baca ada lowongan kerja untuk menjadi takmir masjid. Saya beranikan diri dan coba hubungi kontak yang ada di sana. Kemudian besoknya lagi wawancara, dan Alhamdulillah direrima setelah tes wawancara dan adzan," kata Yahya menjelaskan secara rinci.

Selama empat bulan menjadi marbot masjid di perumahan Casa Grande, ia telah terbiasa mengepel lantai, facum cleaner, bersih-bersih tempat wudhu hingga toilet. Semua itu ia lakukan agar perjuangannya di tanah rantau berbuah manis. Yahya tak ingin membenani orangtua. Hingga suatu saat ia memberanikan diri menggantikan penceramah yang tak hadir di masjid tempatnya bertugas.

"Terus, saya bilang saja ke pengurus, kalau nanti ustadnya tidak hadir, saya saja yang mengisi kajian. Dan Alhamdulillah, diperbolehkan," tutur Yahya.

Sudah tradisi jika siapa pun yang menjadi penceramah maka otomatis akan menjadi imam pada salat Isya. Maka, Yahya pun mau tidak mau melangkahkan kaki berdiri di barisan paling depan memimpin para jamaah. Berkat kemampuan yang Allah berikan kepada Yahya berupa suara merdu dan bekal hafalan Alqur'an, hari-hari berikutnya ia dipercayai menjadi imam di masjid tersebut.

"Dari saat itu, Shubuhnya dan seterusnya saya dipercaya untuk menjadi imam. Alhamdulillah," ucap Yahya penuh syukur.

Ramadan lalu jadwalnya pun sangat penuh. Terhitung lebih dari 20 malam ia habiskan memenuhi undangan dan menjadi imam di masjid yang berbeda di seputar Yogyakarta. Tak hanya itu, ia juga diminta mengisi kajian Ramadan. Yahya menuturkan, meski banyak tugas dan kerap pulang malam karena kesibukannya itu, ia bersyukur karena Allah memberikan jalan terbaik kepadanya.

Yahya kini sudah dapat meringankan beban orang tua. Setiap bulan ia niatkan agar dapat memberikan bantuan dana guna keperluan sekolah adiknya. Saat ini Yahya masih tinggal di Masjid Perumhan Casta Grande. Sebelumnya, ia harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai kampusnya dengan sepeda, tapi ketulusan dan perjuangan dakwahnya perlahan membuahkan hasil.

"Alhamdulillah sekarang sudah ada motor, hasil jeri payah sendiri. Inilah keberkahan Alqur'an, ini semua tidak lepas dari Alqur'an. Semenjak saya pertama kali tiba di Jogja sampai sekarang terasa sekali kemudahan yang Allah berikan," tutup Yahya.

Yahya adalah salah satu dari ratusan mahasiswa/mahasiswi penerima beasiswa dari program Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ) for Leaders. Selain biaya kuliah gratis, mereka diberikan bimbingan intensif berbasis tahfizhul Qur’an serta ditatar memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial. Mereka diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan berjiwa Qur’ani yang membawa perubahan. Aamiin.

 

Update 2, Rakitan Bingkai Dahwah Yahya


Sumber : Dokumentasi Penerima Beasiswa Tahfizh Quran Yahya saat kegiatan Dakwah di kampus

Menjadi seorang mubaligh yang siap menyusuri setiap sudut negeri dengan berbagai keragaman paham bukan hal mudah. Metode pendekatan personal secara langsung menjadi trik jitu sampainya dakwah hingga kedalam keyakinan mereka. Perlahan-lahan namun pasti. Perubahan unsur budaya yang melanggar syariah Islam tanpa menghilangkan prosesinya menjadi cara aman untuk menghindari perselisihan paham. Inilah prosesi dakwah Islam oleh mubaligh nusantara.

Muhamad Yahya, penerima program Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ) PPPA Daarul Qur’an sudah terjun di lapangan mubaligh selama 5 tahun. Setiap bulan Ramadan, Yahya bermukim di beberapa desa wilayah Sulaesi Selatan untuk menyampaikan ajaran Islam. Keyakinan lokal yang mengandung syirik harus dia perangi. Hingga kini keberadaan mereka pun belum hilang dipermukiman muslim. Perayaan pesta dalam bentuk konser musik tepat didepan masjid saat acara pengajian sudah menjadi hal lumrah. Begitulah bentuk protes sosial warga menyambut kedatangan Islam.

Pada 2017 lalu, anak seorang pedagang toko kelontong di terminal Sulawesi Selatan ini mendapatkan beasiswa program BTQ. Beban dan tanggungannya sebagai anak sulung dengan empat bersaudara ini semakin terasa lebih ringan. Fasilitas dana yang dia dapatkan menjadi penutup seluruh biaya pendidikan dan biaya hidupnya di Jogja. Dalam 3 semester berjalan, dia telah menyelesaikanhafalannya hingga 9 juz. Kegiatan belajar mengajar di Graha Tahfidz Daarul Qur’an, pelatihan leadership BTQ dan perkuliahan UIN Suan Kalijaga jurusan Ilmu Alqur’an Tafsir juga memperkaya pengetahuannya dalam bidang dakwah.

Ustad Yahya, begitulah panggilannya di Graha Tahfidz Daarul Qur’an. Kecakapan ilmunya dia salurkan untuk menjadi tenaga pengajar pada kelas tahfidz ikhwan, tahsin warga, tahsin takmir, dan bahasa arab. Tidak hanya itu, tahun pertama sejak kedatangannya di Yogyakarta dia telah menjadi imam dan takmir masjid komplek perumahan elit Casagrande Yogyakarta.

Perjalanannya dalam mempermudah hubungan manusia dengan Sang Kholiq seolah mempermudah seluruh kebutuhan hidupnya di tanah rantau. Ketika dirinya mengundurkan diri dari masjid Casagrande karena keterbatasan waktu, dia langsung mendapatkan tawaran tempat tinggal gratis beserta makannya dari salah satu warga. Tepatnya di Jalan Perumnas, Seturan, Yogyakarta. Itulah berbagai nikmat mubaligh yang istiqomah mendakwahkan Islam di tanah rantau.

Seluruh bekal-bekal dakwah telah ia rakit. Materi dan pengalaman di dunia dakwah Islam sudah siap untuk dibumikan. Kelak ketika sudah selesai masa pengabdian BTQ, Yahya berencana untuk kembali berdakwah menyusuri pedesaan. Menjadi seorang mubaligh ialah sebuah bagian dari hidupnya. Berjalanlah Yahya, serukan Qur’an untuk negeri. Semoga Allah SWT mempermudah tersampaikannya hidayah lantaran perjalananmu. Aamiin.

 

Update 1, Ikhtiar Mendawamkan Qur'an di Pelosok Malang


Sumber : Dokumentasi kegiatan Beasiswa Tahfizh Qur'an Malang

Muda, penghafal Qur’an, berprestasi dan bermanfaat bagi umat. Itulah kepribadian yang ingin dikembangkan PPPA Daarul Qur’an kepada semua santrinya. Sungguh, banyak sekali program yang telah digulirkan agar tujuan besar tersebut terwujud.

Salah satunya untuk mahasiswa-mahasiswi penerima Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ) for Leaders angkatan II di Kota Malang yang tengah berjuang membangun Al Qur’an di Desa Gading Kulon, Dau Malang, Jawa Timur. Ditengah kesibukan para santri yang berkuliah di Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang dan UIN Maliki Malang, mereka tetap bersemangat mengabdi untuk masyarakat.

Sekitar 11 kader BTQ for Leaders terjun bersama merangkul dan membina ikatan keluarga TPQ Desa Gading Kulon. Setiap sebulan sekali mereka mengajarkan program tahfizh kepada guru-guru TPQ dan mengajar nilai-nilai Islam kepada para santri TPQ. Seperti menghafal surah-surah pendek, sholat, sirah nabawiyah dan pengetahuan Islam yang menarik lainnya.

Buktinya, pada Minggu (16/9) kader BTQ for Leaders menggelar acara bertemakan “Gebyar Muharram Gading Kulon” bersama enam TPQ di Desa Gading Kulon. Acara meliputi lomba tartil, hafalan surah pendek, adzan, salat berjamaah, mewarnai dan cerdas cermat. Lomba diadakan secara individu dan berkelompok.

Lomba individu diharapkan mampu membuat santri lebih percaya diri dan berani tampil di depan umum. Sedangkan lomba yang diadakan secara berkelompok dapat melatih para santri berinteraksi, berdiskusi, belajar bersama dengan kompak.

Alhamdulillah, kegiatan lomba dilaksanakan di Masjid At Taqwa Dusun Sempu, Gading Kulon dan dihadiri oleh ketua takmir dan pengurus masing-masing TPQ. Menyejukkan hati melihat para santri sangat bersemangat mengikuti lomba dan mendukung teman-temannya yang tampil,” ujar Manager PPPA Daarul Qur’an Area Jawa Timur, Zuzali.

Sederhana memang yang dilakukan para santri BTQ for Leaders. Namun, pengabdian kecil seperti inilah yang diperlukan masyarakat Indonesia agar bisa menanamkan pelajaran Islam dan Alqur’an sejak dini. Generasi yang melek Alqur’an, ilmu agama dan pendidikan karakter. InsyaAllah.

250.000

Hamba Allah
16 November 18

Rejeki yg diperoleh Barokah dan bahagia dunia Akhirat


500.000

Neng Endah Prihatun
09 November 18

Semoga adik adik yang sedang menuntut ilmu Al-Qur'an diberi kemudahan,kelancaran,dan barakah dari Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin


50.000

Hamba Allah
28 October 18

Semoga berkah dan bermanfaat


50.000

Hamba Allah
26 October 18

Bismillah semoga Allah berikan jodoh yg Sholeh aamiin


50.000

Hamba Allah
25 October 18

Mohon bantuan doanya untuk saya, semoga allah mudahkan dan allah lancarkan saya yang saat ini sedang mencari pekerjaan dengan mengikuti seleksi CPNS. semoga apa yang saya berikan dapat bermanfaat. Terimakasih


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE